News & Events

Regulasi Emosi Dan Empati Terhadap Prosocial Behavior Pada Remaja

Oleh Monica Elisabeth, M.Psi., Psikolog (Kepala HRD Metta School)

Dalam rentang usia 13 sampai 18 tahun lingkungan sosial memiliki peran yang penting dalam kehidupan remaja, salah satunya melalui relasi dengan teman sebaya. Memasuki masa remaja, kedekatan seseorang dengan orang tuanya mulai berkurang dan digantikan oleh hadirnya teman sebaya. Seorang remaja lebih mengandalkan teman daripada orang tua untuk memenuhi kebutuhan akan persahabatan, kepercayaan, dan kedekatan. John Santrock menjelaskan bahwa dukungan dari seorang teman menjadi sangat berarti bagi seorang remaja ketika sedang menghadapi konflik. Di dalam usia ini sekelompok remaja yang memiliki minat yang sama mulai membentuk sebuah komunitas atau clique untuk mengembangkan minatnya tersebut. Melalui kegiatan sosial, seorang remaja mulai belajar untuk bertanggung jawab kepada komunitas, belajar melayani, dan berhubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga melalui kegiatan ini pula seorang remaja mulai berlatih untuk mengurangi orientasinya kepada diri sendiri.

Secara perkembangan emosi, remaja berada dalam situasi “Storm and Stress”. Di dalam situasi ini, anak remaja mengalami peningkatan ketegangan emosi akibat masa puber dan perubahan kondisi sosial. Menurut Elizabeth B. Hurlock, situasi ini dapat membuat seorang remaja memiliki kecenderungan emosi yang “meledak” baik ke arah positif dan negatif, sebab gejolak emosi yang kurang mampu mereka kendalikan. Sementara itu, secara relasi sosial, remaja mulai mengenal lingkungan sosial yang lebih kompleks. Mereka akan mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar rumah, seperti lingkungan sekolah, komunitas, atau organisasi sosial.

Sejalan dengan hal tersebut, seorang anak remaja mulai mengembangkan minat terhadap sosial melalui partisipasi dalam kegiatan sosial. Hal ini penting bagi seorang remaja untuk memiliki kemampuan yang dapat menunjang ketrampilannya dalam menjalin relasi sosial, seperti kemampuan memahami emosi, baik emosi di dalam diri maupun di luar diri. Pemahaman emosi di dalam diri dapat dilakukan seseorang melalui adanya regulasi emosi. James J. Gross menyampaikan regulasi emosi adalah suatu upaya yang dilakukan individu dalam mengubah pengalaman maupun ekspresi emosi yang ada di dalam dirinya.

Menurut James. J. Gross, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam meregulasi emosi, yaitu dengan:

  1. Anak remaja harus percaya dan yakin bahwa diri sendiri mampu mengontrol emosi.
  2. Penentuan atau seleksi situasi. Seseorang akan memilih antara mendekati atau menghindari situasi tertentu. Oleh karena itu, akan ada situasi dimana seorang anak remaja yang tiba-tiba menghilang atau menyendiri dari rutinitas, dikarenakan anak memang sedang mengatur emosinya, menyeleksi situasi untuk memperbaiki respon emosinya.
  3. Modifikasi dari situasi yang telah ditentukan untuk mengurangi pengaruh dari emosi yang muncul dari dalam dirinya dan melibatkan intervensi dari lingkungan sosial. Salah satu contoh yang dapat terjadi seperti, anak akan berusaha membuat lelucon disaat mengalami tekanan, sehingga selain menghibur dirinya sendiri, dia juga menghibur orang-orang di sekelilingnya.
  4. Pengalihan atensi dengan mengarahkan perhatiannya terhadap situasi lainnya untuk mengatur emosinya. Jadi seorang anak akan mengabaikan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam situasi tertentu, dan memilih fokus pada satu aktivitas yang disukai.
  5. Mengubah pola pikir dengan penerimaan, berpikir positif, dan perbandingan sosial. Seseorang berupaya menilai kembali situasi-situasi yang menimbulkan emosi, mencari jalan keluar, dalam rangka menurunkan dampak emosional yang berlebihan.
  6. Fokus terhadap pengalaman respon sebelumnya. Dalam hal ini, seseorang mengatasinya dengan mengingat hal positif atau negatif dari perilaku di pengalaman sebelumnya kemudian kondisi secara fisik dalam menghadapi kondisi emosional tersebut.

Melalui regulasi emosi, anak dapat mengekspresikan emosinya dengan lebih baik dan tepat. Kemampuan anak remaja dalam meregulasi emosi dapat menunjang kemampuannya dalam berempati. Empati adalah kemampuan seseorang dalam memahami perasaan orang lain. Dalam berelasi sosial, empati dapat digunakan sebagai pertimbangan moral. Dengan kata lain, empati merupakan akar dalam moralitas. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang remaja dalam meregulasi emosi dan berempati maka remaja tersebut akan mampu menampilkan tindakan yang bermanfaat bagi relasi sosial atau dengan kata lain remaja tersebut dapat menampilkan prosocial behavior dalam berelasi.

Menurut Eisenberg & Fabes, prosocial behavior adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk membantu atau menguntungkan orang lain. Adanya prosocial behavior tidak hanya dapat memberikan kesejahteraan pada orang yang diberikan bantuan serta meningkatkan relasi interpersonal, melainkan juga dapat memberikan perasaan positif dan kesejahteraan bagi orang yang memberikan bantuan tersebut. Di dalam rentang usia remaja, dimana lingkungan sosial memiliki peran penting dalam kehidupannya, prosocial behavior merupakan sebuah strategi yang digunakan agar anak dapat beradaptasi dan nyaman di lingkungannya. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk dapat meregulasi emosi dan berempati agar dapat menampilkan prosocial behavior dalam berelasi dengan orang lain di lingkungannya.

Sumber:
Elisabeth, M. & Tarradea, S. (2020). Regulasi Emosi Untuk Peningkatan Perilaku Prososial Pada Remaja di Wahana Visi Indonesia Kota Surabaya. Jurnal Bimbingan dan Konseling 5(2).
Hurlock, E. B. (1996). Psikologi perkembangan. Jakarta, Penerbit Erlangga.
Malti, T., M. Averdjik, et al. (2015). Children’s trust and the development of prosocial behavior. Journal of Behavior Development 1(9).
Gross, J. J. & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation processes:
implications for affect, relationships, and well-being. Journal of personality and social psychology 85(2): 348-362.

Facebook Comments